Mon. Jun 17th, 2019

Ketika Sri Mulyani Ikut Tradisi Wong Banten Ziarah ke Gunung Santri

2 min read

SERANG, bantenhariini.com – Setelah menjalankan ibadah salat Idul Fitri 1440 Hijriyah, masyarakat Banten biasanya akan menjalankan tradisi turun temurun seperti melakukan ziarah ke makam tokoh ulama. Salah satunya adalah menziarahi makam Syekh Muhammad Soleh yang terletak di Kampung Gunung Santri, Kelurahan Bojonegara, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Seran, Senin (10/6).

Di Gunung Santri ini, ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Banten, memadati jalan setapak menuju makam Syekh Muhammad Sholeh yang terletak di atas Gunung Santri dengan ketinggian 600 Meter.

Memang untuk menuju keatas Gunung Santri harus berjalan selama 30 menit, dengan melewati antrean yang lumayan panjang. Tidak hanya itu, peziarah pun harus menyediakan uang receh untuk berbagi sedikit sedekah. Karena melewati sebanyak 32 Kotak Amal, dalam 5 langkah menuju tempat ziarah makam Syekh Muhammad Sholeh.

Tradisi ini diakui oleh salah satu peziarah asal Tanara, Kabupaten Serang, Sri Mulyani, yang menurutnya selalu dilakukan saat lebaran tiba. “Ini memang sudah rutin dilakukan pada setiap tahun setelah lebaran Mas. Bisa dibilang Tradisi Ala wong Banten sesudah Lebaran,” ungkapnya saat di temui di tengah perjalanan menuju keatas Gunung Santri.

Bahkan momen tersebut menururnya dimanfaatkan oleh ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjejer di sepanjang jalan menuju keatas Gunung Santri. “Lumayan saja Mas, kalau momen lebaran ini penghasilan kita menjadi Rp600 Ribu dalam sehari,” ujar pemilik Warung Kopi (Warkop) Lelah, yang bedagang di atas Gunung Santri.

Lelah mengatakan, ramainya pengunjung di sini semenjak dari H+1 setelah Lebaran di hari Kamis 7 Juni 2019. “Kalau hari biasanya sepi penziarah. Bahkan saya tidak jualan,” jelasnya.

Di tempat berbeda, pengelola penziarah Gunung Santri, Ketua RW 06, Badurahman menjelaskan, bahwa peziarah yang telah datang ke Gunung Santri dari H+1 hingga H+4 telah mencapai 1.000 orang yang berkunjung. Ia pun mengaku, memang puncak ramai pengunjung pada Idul Fitri dan Maulid Nabi.

“Kalau hari-hari biasa mah memang sepi, dan ini karena memang sedang ada tradisi sesudah lebaran. Bahkan dari pagi, siang, sore sampai malam pengunjung tetaplah ramai, tanpa henti,” jelasnya.

Lanjut Badurahman, untuk makam yang terdapat di atas Gunung Santri, terdalat 3 makam tokoh ulama Banten. Salah satunya, Syekh Muhammad Sholeh bin Abdurrahman. “Beliau adalah seorang ulama penyebar agama Islam di Kawasan Pantai Utara Banten, yang merupakan santri dari Sunan Ampel,” tandasnya.

Seperti diketahui, berdasarkan informasi dari masyarakat sekitar mengenai cerita singkat Syekh Muhammad Sholeh yang pada kala itu adalah penyiar agama Islam di Banten, melawan kekuasaan Kerajaan Pajajaran dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun dengan pusat pemerintahannya berada di Banten Girang.

Akhirnya Syekh Muhammad Sholeh pun bertemu Maulana Hasanudin di Gunung Lempuyang dekat Kampung Merapit, Desa Ukir Sari, Kecamatan Bojonegara. Setelah bertemu, Maulana Hasanudin menolak untuk segera kembali ke Cirebon karena merasa terpanggil untuk mengislamkan tatar Banten yang masih banyak memeluk Agama Hindu.

Syekh Muhammad Sholeh pun akhirnya menetap di Gunung Santri yang merupakan salah satu bukit dan nama kampung di Desa Bojonegara, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Lalu dirinya pun mulai berdakwah menemani Sultan Hasanuddin.

Maulana Hasanudin pun kemudian mengangkat Syekh Muhammad Sholeh untuk menjadi pengawal sekaligus penasihat dengan julukan “Cili Kored” karena berhasil dengan pertanian dengan mengelola sawah untuk hidup sehari-hari dengan julukan sawah si derup yang berada di Blok Beji. (FEB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *